Sabtu, 04 Februari 2012

KISAH-KISAH TELADAN


1.Senjata makan tuan


Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.
Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, “Kalau kukatakan itu padamu, kau pasti menyalahgunakannya.”

Mereka berkata, “Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami.”
“Kalian tak memahami apa yang kalian minta,” katanya -tetapi diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.
Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih. “Mari kita uji keampuhan Kata itu,” kata mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.
Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai menjadi serpih-serpih daging.
Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.
Catatan
Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria. Kisah ini mengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam Magang Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di samping selalu muncul dalam dongeng-dongeng lisan para darwis tentang Yesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali.
Yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang suka mengulang-ngulang kisah ini adalah salah seorang di antara yang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir putra al-Hayan, yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, yang juga penemu alkimia Kristen.
Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia orang Sabia, menurut para pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimia penting.

2.Orang Serakah Justru Tidak Mendapat Sesuatu

Seorang lelaki pemburu dengan memegang busur dan panah sedang berjalan lunglai. Ia letih dan air keringat mengucur deras dari wajah dan tubuhnya. Lelaki itu berhenti sejenak, ia meletakkan busur dan panahnya, dan membersihkan mukanya. Ia memandang sekitar. Tidak ada hewan yang dapat diburu, bahkan tidak satu burung pun yang terbang.

Lelaki itu bergumam sendiri dan berkata: "Hari ini tidak baik, kemana larinya hewan-hewan buruan itu?"

Lelaki pemburu itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba dia mendengar sesuatu di sela-sela semak-semak. Dia segera menyiapkan busur dan panahnya serta bersembunyi di balik pohon. Lelaki itu mendengar dengan seksama. Ia mendengar langkah kaki hewan yang semakin dekat. Tidak lama kemudian seekor rusa besar dan indah muncul dari balik semak tidak jauh dari tempat persembunyian lelaki itu.

Rusa tersebut tampak senang di dunianya sendiri dan tidak menyadari kehadiran lelaki itu. Rusa itu tersenyum dan berjalan melenggang dengan tenang tanpa menyadari bahaya yang mengancamnya.

Lelaki pemburu itu dalam hati berkata: "Wah… hewan yang bagus sekali, aku tidak boleh membiarkannya lari dari tanganku."

Dengan sangat berhati-hati lelaki pemburu itu mengambil busur dan meletakkan panah untuk ditembakkan. Suara sekecil apapun akan membuat rusa itu lari. Dia membidik mangsanya dan melepaskan anak panah itu dengan kekuatan penuh. Panah langsung menusuk ke jantung rusa tersebut dan rusa itu jatuh seketika. Kemudian lelaki itu mendekati mangsanya dan memanggulnya menuju rumah.

Dengan raut wajah berseri-seri, pemburu itu berjalan dengan cepat dan tidak lagi merasa letih. Dalam perjalanan, ia kembali mendengar suara jejak kaki di balik semak-semak. Ia berhenti dan dalam hati berkata: "Mungkin ada rusa lain dan lebih baik aku tidak berisik."

Pada awalnya lelaki itu berpikiran bahwa dirinya tidak membutuhkan mangsa baru. Akan tetapi dia segera berubah pikiran dan dalam hati ia berkata, "Aku kan sudah mendapat mangsa ini dan yang satunya lagi aku akan menjualnya untuk membeli barang-barang keperluanku."

Setelah itu pemburu itu meletakkan buruannya dan kembali menyiapkan busur dan anak panahnya. Namun tiba-tiba yang muncul dari balik semak-semak itu bukan rusa melainkan banteng besar. Banteng itu melihat sang pemburu yang sudah siap untuk melepaskan anak panahnya, berlari kea rah sang pemburu. Di sisi lain, si pemburu itu juga kaget bukan main dan dengan tergesa-gesa melepaskan anak panahnya. Panah itu menancap di leher banteng namun tidak merobohkannya.

Banteng itu tetap berlari kencang dan sang pemburu pun menghindar. Dengan panah yang tertancap di lehernya, banteng itu membalikkan badannya mengincar sang pemburu. Bedanya kali ini, banteng tersebut nampak sangat marah. Pemburu itu memasang anak panah berikutnya dengan harapan kali ini dia dapat merobohkan banteng ganas itu. Tapi dia tidak menyadari bahwa banteng itu berlari lebih cepat dari sebelumnya dan menabrak dirinya. Setelah beberapa saat, baik banteng maupun sang pemburu, jatuh lemas, keduanya kehilangan banyak darah. Sedemikian parah luka keduanya sampai-sampai keduanya mati di samping jasad rusa.

Orang bijak berkata, "Orang yang serakah justru tidak akan mendapatkan apa-apa.

3.Sidang para burung


Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja.”
Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang.
“Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya.”
Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang raja.· Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan buruk.
Burung-burung sekalian, kata Hudhud, kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk, karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita, tapi kita jauh dari-Nya.
Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya. Dan dikatakan kepada mereka, “Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini.”
Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk menggapai istana Simurg mereka harus bersatu, saling bekerja sama dan tidak boleh saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan.
“Apakah kalian sudah siap ?” kata burung Hudhud, menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan turun.
Namun, di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang memberanikan diri menyampaikan pendapatnya, “Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat, bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-kembang mekarku ?” demikian alasan burung Kenari.
Selanjutnya, burung Merak berkata, “Dulu aku hidup di syurga bersama Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan.”
Kemudian disusul oleh Itik, “Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin hidup tanpa air,” kilah Itik.
Begitu juga burung Garuda, “Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan”, alasan Garuda.
Kemudian disusul burung Gelatik, “Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu,” kata burung Gelatik.
Lantas burung Elang ikut menyahut, “Semua orang sudah tahu kedudukanku yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia ini, ” kata burung Elang.
Burung Hudhud sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka. “Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu, sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal kalian tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci, kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?” ucap Hudhud.
Kemudian ada seekor burung menyela, “Dengan cara apa kita bisa sampai ke tempat Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu? “Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi, kemauan yang kuat, dan tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Bagi orang yang rindu, seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat, laksana matahari dengan cahayanya,” jawab Hudhud meyakinkan. Sabarlah, bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar,·demikian lanjut Hudhud.
Setelah itu, bangkitlah semangat burung-burung seolah-olah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah menuju istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal.
Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. “Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak sampai-sampai?” guman mereka di dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Namun burung-burung lain yang masih memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha panjang itu.
Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang dibanggakan berguguran. Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah tidak terpikirkan. Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian lengkaplah penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan, sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan dalam ketidak berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan tenggelam dalam gelombang fana’.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh. Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.
Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, “Apa tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?” kata penjaga istana. Serentak mereka menjawab, “Saya datang untuk menghadap Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya.”
Tanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, “Salaamun qaulam min rabbir rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, “Lho kok aku sudah ada disini?” begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya. Maka datanglah suara lembut menjawabnya, “Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi Insan Kamil.”
Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah melewati tahapan fana’ billah hingga mencapai puncak baqa’ billah. Maka hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.

4.Tuan dan budak

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as:

"Pada masa pemerintahan Imam Ali as, ada seorang gunung bersama budaknya hendak pergi untuk melakukan haji. Pada suatu ketika, budaknya tidak menuruti perintah. Tuannya kemudian memukulnya. Tapi, budak itu kemudian berkata bahwa engkau bukan tuanku, melainkan aku adalah tuanmu. Dalam perjalanan senantiasa keduanya bertengkar masalah ini. Akhirnya, keduanya sepakat untuk tetap dengan klaimnya hingga sampai ke kota kufah. Setiap keduanya mengatakan kepada lainnya, "Wahai musuh Allah! Aku akan membawamu ke hadapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib".

Sesampainya kota Kufah, keduanya langsung menuju Imam Ali bin Abi Thalib as. Si tuan yang memukul budaknya terlebih dahulu membuka mulut, "Aku mengharapkan kebaikanmu dari Allah. Ini adalah budakku. Ia melakukan kesalahan dan kupukul dia. Karena itu, dia tidak lagi mau menaatiku". Si budak kemudian berkata, "Demi Allah! Dia adalah budakku. Ayahku mengutusnya untuk menyertaiku dan sekarang dia mengaku sebagai tuanku. Ini dilakukannya untuk mengambil hartaku."

Karena tidak memiliki saksi, maka masing-masing diminta bersumpah bahwa apa yang diucapkannya adalah benar dan lawannya berbohong. Imam Ali lantas berkata kepada keduanya, "Pergilah kalian malam ini dan usahakan seperti teman. Keesokan harinya kalian temui aku dengan alasan yang benar."

Fajar menyingsing. Imam Ali as memerintahkan kepada Qanbar, budaknya, untuk membuat dua lobang di dinding. Matahari pagi telah memancarkan sinarnya ketika dua orang yang berselisih semalam tiba. Orang-orang juga ikut berkumpul. Mereka berbisik-bisik, bahwa Imam Ali as menghadapi masalah besar yang belum pernah dialaminya. Imam Ali as kali ini tidak bakal dapat menyelesaikannya.

Ima Ali as bertanya kepada keduanya, "Apa yang kalian katakan sebelumnya?"

Keduanya serentak mulai bersumpah bahwa ia sebagai tuan dan lainnya sebagai budak. Setelah mendengar ucapan keduanya, Imam Ali as kemudian berkata, "Berdirilah kalian berdua! Kalian berdua bohong". Ia kemudian berkata kepada salah satu dari keduanya, "Masukkan kepalamu ke dalam lobang yang ada di dinding itu, dan engkau masukkan kepalamu di lobang yang satunya lagi!"

Setelah mereka meletakkan kepalanya dalam lobang yang telah disiapkan, Imam Ali as berkata kepada Qanbar, "Wahai Qanbar! Ambilkan pedang Rasulullah, aku ingin memotong leher setiap budak dari keduanya".

Mendengar itu, si budak segera mengeluarkan kepalanya, sementara yang lainnya tetap meletakkan kepalanya di lobang. Imam Ali as bertanya: "Bukankah engkau mengaku bukan budak?"

"Benar, tapi ia memukulku dengan kejam sehingga aku mengaku sebagai tuannya", terbata-bata si budak mengaku.

Imam Ali as kemudian memanggil si tuan dan kemudian mengambil sumpah darinya untuk tidak menzalimi budaknya. Setelah itu, budaknya dikembalikan kepadanya."

Hadis ini diriwayatkan oleh Syaikh Shaduq secara marfu' dari Imam Baqir as dalam bab al-Hiyal pada buku Man Laa Yahdhuruhul Faqih.

Riwayat yang semacam ini juga diriwayatkan oleh Kulaini dalam buku al-Kafi pada bab ke 11 dari masalah Diyat, dan al-Faqih dalam bab hukum seseorang yang membunuh dua orang. Dalam buku at-Tahdzib juga dimuat di awal bab jaminan jiwa dalam masalah Diyat bersandarkan pada Umar bin Abi al-Miqdam dalam pemutusan perkara oleh Imam Ja'far Shadiq as.

Ia meriwayatkan, "Aku menyaksikan sendiri di Masjidul Haram, seseorang berteriak kepada Abu Ja'far al-Manshur, khalifah dari Bani Abbas waktu itu, yang sedang melakukan tawaf.

Katanya, "Dua orang ini telah mengajak keluar adikku sejak semalam dan sampai saat ini ia belum kembali ke rumah. Aku tidak tahu apa yang telah mereka lakukan terhadapnya".

Al-Manshur berkata, "Kalian berdua besok sore setelah shalat Asar harus berada di tempat ini".

Keesokan harinya, orang yang saudaranya hilang hadir bersama dua orang yang dituduh membunuh adiknya.

Pada waktu itu, hadir Imam Shadiq as sambil mendekap tangannya.

Al-Manshur berkata kepadanya, "Jadilah pengadil di antara mereka!"

Imam Shadiq as tidak menerima dan mengatakan agar al-Manshur yang mengadili mereka.

Al-Manshur memaksa Imam Shadiq as untuk mengadili mereka. Imam Shadiq as terpaksa menerima. Ia kemudian duduk di atas tikar dari bambu yang telah disiapkan dan mereka duduk di hadapannya. Beliau kemudian menghadap orang yang mengadukan adiknya, "Apa yang engkau katakan?"

Ia menjawab, "Wahai anak Rasulullah! Kedua orang ini mengajak adikku keluar dari rumah pada malam hari. Sampai saat ini ia belum kembali ke rumah. Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan terhadapnya."

Beliau kemudian menghadap kedua orang itu lalu bertanya, "Apa yang dapat kalian beri tahukan?"

Mereka menjawab, "Kami hanya berbicara dengannya malam itu kemudian ia pulang ke rumahnya."

Imam Shadiq as lantas berkata kepada budaknya, "Tulis! Bismillahirrahmanirrahim."

Rasulullah Saw telah bersabda bahwa setiap orang yang mengajak orang lain keluar dari rumahnya pada malam hari, maka ia sebagai jaminannya. Kecuali bila ia mampu mengajukan saksi bahwa ia telah mengembalikannya ke rumahnya."

Beliau kemudian memerintahkan kepada budaknya untuk menyingkirkan yang satu dan kemudian memenggal kepala yang lainnya. Orang yang akan dipenggal kepalanya kemudian buka mulut, "Wahai anak Rasulullah! Aku tidak membunuhnya. Aku hanya menyekapnya, kemudian ia, sambil menunjuk temannya, datang dan membunuhnya."

Imam Shadiq as berkata, "Aku adalah anak Rasulullah. Lepaskan yang ini dan penggal kepala yang satunya!"

Orang yang diperintah untuk dipenggal kepalanya berkata, "Wahai anak Rasulullah! Demi Allah! Aku tidak menyiksanya. Aku membunuhnya dengan sekali sabetan pedang."

Imam Shadiq as kemudian memerintahkan kepada orang yang mengadukan perkara untuk melakukan qisas. Sementara yang satunya lagi dimasukkan ke penjara seumur hidup. Imam Shadiq as memerintahkan agar mencambuknya setiap tahun sebanyak lima puluh kali.

5.Dua ibu satu anak

"Pada zaman Umar bin Khatthab, ada dua wanita berselisih memperebutkan seorang anak. Kedua wanita itu mengaku seorang ibu atas seorang bayi. Keduanya mengklaim tanpa memiliki bukti dan saksi. Umar bin Khatthab kebingungan untuk memberikan keputusan siapa sebenarnya ibu dari bayi ini. Akhirnya ia terpikir Imam Ali bin Abi Thalib dan membawa perkara ini ke hadapannya untuk dicarikan solusinya.

Imam Ali as pada mulanya menasihati keduanya, namun nasihat itu tidak mempan. Keduanya tetap pada pendiriannya. Karena perselisihan keduanya tidak kunjung selesai, Imam Ali as meminta untuk diambilkan gergaji. Melihat itu, kedua wanita ini bingung dan bertanya, "Apa yang ingin engkau perbuat?"

Imam Ali as menjawab, "Aku ingin membelah anak ini menjadi dua bagian. Satu untukmu dan satu lagi untuk engkau."

Ketika mendengar keputusan apa yang akan dilakukan oleh Imam Ali as, salah satu dari wanita itu terdiam lalu berkata. "Jangan! Jangan! Kalau itu keputusanmu, aku memberikan bagianku kepada ibu itu, biarlah dia menjadi ibu dari anak ini."

Imam Ali as lantas mengucapkan takbir "Allah Akbar". "Bayi ini adalah anakmu dan bukan dia. Bila bayi ini milik dia, tentu dia tidak tega dengan keputusanku dan akan menolak pembagian anak ini dengan cara dibelah dua," tambah Imam Ali as.

Wanita yang satunya kemudian mengaku di hadapan Imam Ali as bahwa memang benar ibu anak itu bukan aku tapi yang satunya.

Setelah selesai masalahnya, ibu yang berhak atas anak itu kemudian mendoakan Imam Ali as.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh as-Sarwa dan berkata, "Ini adalah hukum yang pernah dilakukan oleh Nabi Sulaiman as di masa kecilnya."

Sementara itu, dalam buku al-Adzkiya' diriwayatkan:

"Ada seorang lelaki membeli budak dari orang lain. Setelah dibeli, ia mengklaim bahwa budak ini tolol dan ingin mengembalikannya. Si penjual tidak terima dengan keinginan lelaki yang membeli itu. Mereka kemudian mengadukan masalah ini ke hakim Ayas. Ayas bertanya kepada budak wanita itu, "Sebelah mana dari kakimu yang panjang sebelah?"

Budak wanita itu menunjukkan sambil menjawab, "Ini."

Ayas bertanya, "Apakah engkau masih ingat malam ketika engkau dilahirkan oleh ibumu?"

Budak wanita menjawab, "Iya, saya masih ingat."

Ayas langsung berujar, "Kembalikan budak ini! kembalikan budak ini!"

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

"Seorang pria menitipkan hartanya kepada temannya. Setelah lewat beberapa waktu, ia ingin meminta kembali barangnya, akan tetapi teman yang dititipi itu tidak mengaku bahwa ia pernah dititipi barang. Mereka kemudian berselisih dan akhirnya sepakat mengadukan masalah ini ke hakim Ayas. Kata pria tersebut, "Aku menitipkan hartaku kepadanya."

Ayas bertanya, "Siapa yang menjadi saksimu?"

Pria tersebut menjawab, "Aku menitipkan barangku di tempat ini pada waktu ini, tapi tidak ada orang yang menyaksikan."

Ayas bertanya, "Ketika engkau menitipkan barangmu kepadanya, di tempat tersebut ada apa?"

Pria tersebut menjawab, "Ada sebuah pohon."

Ayas berkata kepadanya, "Sekarang, pergilah engkau ke pohon itu. Semoga engkau teringat akan sesuatu. Mungkin saja hartamu engkau pendam di bawah pohon itu dan kemudian engkau lupa. Semoga dengan melihat kembali pohon itu, engkau menjadi teringat kembali di mana pernah meletakkan hartamu."

Ketika pria itu berlalu, Ayas berkata kepada teman pria itu, "Duduk dan tenangkan dirimu!"

Ayas kemudian melanjutkan kerjanya sebagai hakim dan menyelesaikan masalah-masalah yang diadukan kepadanya. Teman pria itu duduk dan melihat aktivitas Ayas selama sejam lebih.

Ayas kemudian bertanya kepadanya, "Wahai teman pria itu, menurutmu apakah temanmu sekarang telah sampai di pohon yang disebutkannya?"

Teman pria itu menjawab, "Belum."

Ayas kemudian berkata, "Wahai musuh Allah dan pengkhianat! Engkau ingin membohongiku tapi Allah menyingkap kebohonganmu."

Ayas kemudian memerintahkan untuk menangkapnya sehingga pria itu datang. Ayas berkata pada pria pemilik harta itu, "Temanmu telah mengaku. Ambil kembali hartamu darinya!"


6.Kisah tukang Kebun dan Burung Bulbul

Seorang tukang kebun merawat kebunnya dengan sangat teliti dan penuh semangat. Ia menanam berbagai macam bunga yang indah dan harum. Meski tukang kebun itu sudah berusialanjut, namun setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia selalu berjalan di kebunnya dan menikmati segarnya udara di kebun itu. Setiap pagi, ia berjalan-jalan di atas rumput dan di sekitar bunga-bunga indah itu dan menikmati segarnya suasana pagi. Oleh sebab itu pula pekebun tua itu tampak selalu ceria dan berseri.

Teman-teman pekebun itu mengenalnya sebagai seorang yang periang dan berhati gembira. Sama seperti kebanyakan orang, pekebun itu berpendapat bahwa orang yang bangun pagi dan berjalan selama beberapa menit di antara bunga-bunga dan tanaman segar, maka ia tidak akan cepat tua dan selalu gembira.

Pekebun itu memetik banyak bunga, namun di antara semua bunga yang ada di sana, ia sangat terkesima dengan harumnya bunga mawar merah. Menurutnya bunga itu sangat harum dan indah dibanding bunga-bunga lainnya. Setiap hari ia memerhatikan bunga-bunga mawar merah itu dan menikmati keharumannya. Dalam hati ia berkata, "Burung bulbul benar jika menyukai mawar merah. Karena bunga itu memberikan kenikmatan dan keceriaan jiwa tersendiri."

Pada suatu hari, sebelum matahari terbit, seperti biasa pekebun itu berjalan-jalan di kebunnya dan sampailah ke sekumpulan bunga mawar merah kesukaannya. Dengan terkejut ia melihat seekor burung bulbul sedang mencabuti daun kembang kesayangannya itu satu persatu. Setelah itu, burung bulbul itu berkicau seakan bernyanyi ceria kemudian kembali mencabuti satu persatu daun bunga mawar merah itu. Sampai akhirnya seluruh daun bunga mawar merah itu habis.

Sang pekebun tua itu menyaksikan semuanya. Di satu sisi ia senang melihat kegembiraan burung bulbul itu, namun di sisi lain ia sangat sedih melihat apa yang menimpa bunga kesayangannya itu.

Tidak lama kemudian, burung bulbul menyadari bahwa pekebun itu telah lama menatapnya. Ia pun terbang meninggalkan kebun tersebut.

Dalam hatinya, pekebun tua itu berkata, "Bulbul berhak untuk menyukai bunga mawar merah, akan tetapi mengapa ia harus mencabuti semua helai daunnya, bukankah bunga untuk dinikmati keharumannya? Ini tidak benar, aku yang menanam bunga-bunga ini, mengapa bulbul harus merusaknya?"

Keesokan harinya, ia melihat bulbul tengah bernyanyi di antara helai daun bunga mawar yang berserakan di atas tanah. Sang pekebun marah dan berkata, "Hukuman bulbul yang menyalahgunakan kebebasannya adalah kurungan."

Pekebun tua itu telah memasang jebakan di sekitar bunga mawar untuk menangkap bulbul. Burung itu pun terjebak.

Kemudian pekebun tua itu berkata kepada bulbul, "Kau sama sekali tidak menghargai kebebasanmu, oleh karena itu kini kau harus berada dalam kurungan ini sehingga kau tahu hukuman apa yang harus kau terima karena telah merusak bunga mawarku."

Akan tetapi sang bulbul menjawab, "Wahai kawan, kita berdua sangat menyukai mawar merah. Kau menanamnya dan kau membuatku merasa senang, sebagai gantinya, kau dapat menikmati nyanyian merduku. Aku juga ingin bebas sepertimu, dapat berjalan-jalan di kebun. Apa alasan kau mengurungku? Jika kau ingin mendengar nyanyianku, maka sarangku adalah kebunmu, dan aku akan bernyanyi sepanjang siang dan malam. Jika kau memliki alasan lain untuk mengurungku, maka katakanlah."

Pekebun tua itu menjawab, "Aku tidak mengingkari kata-katamu tentang nyanyianmu. Namun kau telah merusak keceriaanku dengan merusak bunga-bunga mawar kesayanganku. Ketika kau dapat bebas terbang, kau seakan-akan lepas kontrol dan merusak bunga-bungaku. Hukuman ini aku berikan karena kau telah menyalahgunakan kebebasanmu dan juga agar ini menjadi pelajaran bagi burung-burung lain."

Mendengar hal itu, bulbul berkata, "Wahai orang tua, kau tidak adil. Kau telah menyakiti hati dan jiwaku. Lantas kau berbicara tentang hukuman? Apakah kau tidak berpikir bahwa dosamu lebih besar? Aku hanya merusak sekuntum bunga, sementara kau telah menyakiti hati."

Jawaban bulbul sangat mengejutkan pekebun tua itu. Ia pun memutuskan untuk membebaskan bulbul itu. Burung kecil itu pun kemudian berkata, "Karena kau telah berbuat baik kepadaku, maka aku akan membalas kebaikanmu. Galilah tanah tempat kau berdiri."

Pekebun tua itu kemudian menggali tanah tempat ia berpijak. Ia menemukan sebuah piring emas. Kemudian ia berkata, "Wahal bulbul, aku heran, mengapa kau bisa mengetahui piring emas yang ada di bawah kakiku, tapi kau tidak menyadari adanya jebakan di bawah kakimu sendiri?"

Sang burung bulbul menjawab, "Dalam hal ini ada dua alasan. Pertama, meski berpengetahuan, namun sangat mungkin kita terjebak dalam suatu kondisi yang tidak kita perkirakan yang kita namakan dengan takdir. Kedua, aku tidak menyukai emas, dan karena itu aku tidak memperhatikannya ketika aku melihatnya. Akan tetapi sedemikian besar aku mencintai bunga mawar merah itu, sehingga aku tidak sadar adanya jebakan di bawah kakiku. Ketahuilah, segala sesuatu yang berlebihan akan membuat seseorang menderita, bahkan cinta yang berlebihan." 


7.Mimpi dan irisan roti


Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.

Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.
Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. "Inilah mimpiku," kata yang pertama. "Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian."
"Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, 'Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia."
Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam."

Catatan
Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model kuno. Ia merupakan Guru yang telah melahirkan lebih dari empat belas Kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India, Humayun.
Meskipun ia dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, yang merupakan tempat ziarah Sufi yang sangat penting.
Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan. 


8.Air surga

Harits, orang Badui, dan istrinya Nafisa, berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang butut. Di mana pun ditemukannya tempat yang ditumbuhi beberapa kurma atau rumput belukar untuk untanya dan terdapat kolam air sekotor apa pun, pasti ia singgahi.

Kehidupan semacam itu telah mereka jalani bertahun-tahun lamanya, dan Harits jarang sekali melakukan sesuatu di luar kebiasaannya sehari-hari; menjerat tikus gurun untuk diambil kulitnya, memintal tali dari serat kurma untuk dijual kepada kafilah yang lewat.

Namun, pada suatu hari, sebuah mata air muncul di padang pasir, dan Harits pun mencucukkan sedikit air ke mulutnya. Baginya, air itu terasa bagaikan air surga, sebab jauh lebih jernih dibandingkan air yang biasa diminumnya.

Bagi kita, air itu akan terasa memualkan sebab sangat asin. "Air ini," kata Harits, "Harus kubawa kepada seseorang yang bisa menghargainya."

Segeralah ia berangkat ke Baghdad, ke istana Khalifah Harun Al-Rasyid. Ia berjalan terus tanpa berhenti kecuali untuk mengunyah beberapa buah kurma. Harits membawa dua kantong kulit kambing berisi air; satu untuk dirinya, yang lain untuk Khalifah.

Beberapa hari kemudian, sampailah ia di Baghdad, dan langsung menuju istana. Para pengawal istana mendengarkan ceritanya dan, hanya karena demikianlah aturan di istana, mereka membawanya ke pertemuan umum Raja Harun.

"Penguasa kaum beriman," kata Harits, "Saya seorang Badui miskin, dan mengetahui segala macam air di padang pasir, meskipun aku mungkin hanya tahu sedikit tentang hal-hal lain. Saya baru saja menemukan Air Surga ini, dan karena menyadari bahwa air ini pantas dibawa kepada Tuan, maka saya pun segera membawanya kemari sebagai persembahan."

Khalifah Harun mencicipi air itu dan, karena ia memahami rakyatnya, ia menyuruh penjaga membawa Harits pergi dan mengurungnya sampai ia mengambil keputusan. Kemudian, dipanggilnya kepala pengawal, dan berkata, "Yang bagi kita bukan apa-apa, baginya segala-galanya. Oleh karena itu, bawalah ia pergi dari istana pada malam hari. Jangan sampai dilihatnya Sungai Tigris yang dahsyat itu."

"Kawal orang itu sepanjang jalan menuju tendanya tanpa memberinya kesempatan mencicipi air murni. Kemudian, berilah ia seribu keping emas dan sampaikan terima kasihku untuk persembahannya itu. Katakan padanya bahwa ia adalah penjaga Air Surga, dan bahwa ia diperbolehkan atas namaku membagikan air itu kepada kafilah yang lewat, secara cuma-cuma."

Kisah ini juga dikenal sebagai 'Kisah tentang Dua Dunia.' Kisah ini diceritakan oleh Abu Al-Atahiyyah dari Suku Aniza (sezaman dengan Harun Al-Rasyid dan pendiri Darwis Makhara (Kaum Suka Ria), yang namanya diabadikan dalam istilah Mascara dalam bahasa-bahasa Barat. Pengikutnya tersebar hingga ke Spanyol, Perancis, dan negeri-negeri lain. Al-Atahiyyah disebut sebagai 'Bapak puisi suci sastra Arab'. Ia wafat tahun 828.


9.Salman al-Farisi Mencari Kebenaran



Salman al-farisi adalah seorang bangsawan dari Persia yang menganut agama Majusi. Namun dia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Pergolakan batin itulah yang mendorongnya untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya.
Kisah Salman diceritakan langsung kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas:
Salman dilahirkan dengan nama Persia, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (kepala) desa. Dia adalah orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar.

Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara.
Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang menghasilkan pasokan hasil panen berlimpah. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan sejumlah tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran.
“Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.”
“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai salat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’”.
Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. “Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.”
Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik. Ayahnya terkejut dan berkata: “Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik.”
“Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita,” tegas Salman.
Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya.
Salman tak kehabisan akan dan mengirimkan sebuah pesan kepada penganut Nasrani, meminta mereka mengabarkan jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Suriah. Setelah informasi didapat, Salman pun membuka rantai dan kabur untuk bergabung dengan rombongan kafilah.
Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: “Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari anda, dan salat dengan anda.”
Sang pendeta menyetujui dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.
Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untuk menguburkannya, Salman mengatakan bahwa pendeta itu korup dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh guci yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah.
Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya.
Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.
Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Namun ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.
Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan uang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya mendapat bimbingan langsung dari beliau.
Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai saudara.
Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah karena idenya membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam Perang Khandaq. Ketika itu Madinah akan diserang pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 personel. Pemimpin pasukan itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quradhzah akan mengacau dari dalam kota.
Rasulullah SAW pun meminta masukan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saran Salman Al Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah diterima. Strategi Salman memang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saran tersebut diterima.
Atas saran Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangkan kaum Muslimin.
Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, Salman dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga dia wafat.


10.Tambang Kedermawanan

Imam Husein as sedang berada di rumahnya dan tengah melakukan shalat. Seorang pria mendatangi rumah beliau dan mulai mengetuknya sambil berkata, "Wahai Husein! Hari ini engkau adalah harapan seseorang yang bila mengetuk pintu rumahmu, maka ia tidak akan berputus asa. Engkau adalah orang dermawan dan tambang kedermawanan. Wahai orang yang ayahnya adalah penghancur kezaliman!"

Imam Husein as memperpendek shalatnya agar dapat memenuhi apa yang diinginkan orang itu. Ketika selesai shalat dan keluar melihat orang tersebut, Imam langsung memahami orang itu tidak punya apa-apa dan sangat miskin. Imam mendekatinya dan berkata, "Tetaplah engkau di sini sehingga aku kembali."

Imam Husein as kemudian berkata kepada pelayannya, "Berapa uang yang tersisa di tanganmu untuk pengeluaran sehari-hari kita?"

Pelayan beliau menjawab, "Yang ada di tanganku tinggal 200 dirham dan engkau telah berkata agar uang ini dibagikan kepada para kerabat."

Imam Husein as berkata, "Bawa uang itu kepadaku! Karena ada seseorang di depan pintu yang lebih membutuhkannya."

Pelayan kemudian pergi dan kembali ke hadapan Imam sambil membawa uang itu. Setelah menerimanya, Imam Husein as pergi ke depan pintu dan memberikan uang tersebut kepada orang miskin yang berdiri di sana. Imam Husein as berkata, "Ambillah uang ini dan terimalah permintaan maafku. Aku tidak punya uang lebih dari ini untuk diberikan kepadamu."

Orang miskin itu menerima uang tersebut dan pergi dari rumah Imam. Ia tampak begitu gembira.


11.Kekikiran itu membodohkan

Pada dulu kala, seorang musafir berjalan di sebuah gurun gersang dan dia melihat seorang lelaki Arab duduk di tepi jalan dan menangis terisak. Musafir itu dalam hatinya bertanya, "Siapa gerangan lelaki Arab itu, dan musibah apa yang dialaminya sehingga dia menangis sedemikian memilukan?"

Musafir itu kemudian mendekati lelaki Arab itu. Dia melihat tangisan lelaki Arab itu sedemikian memilukan sehingga ia pun ikut merasa bersedih tanpa mengetahui sebabnya. Ia menanyakan sebab mengapa lelaki Arab itu menangis, dan ia menunggu lelaki itu menjawab. Namun isak tangisnya membuat lelaki Arab itu tidak sanggup untuk menjawab.

Musafir memahami kondisi lelaki itu dan kemudian dia melihat ada seekor anjing yang tergeletak di samping lelaki Arab itu, tidak bergerak, seakan telah mati. Musafir itu lantas bertanya, "Anjing ini hidup atau mati? Mengapa kamu tidak mengatakan sesuatu? Bicaralah, mungkin aku dapat membantumu?"

Lelaki Arab itu terus menangis dan sambil menunjuk anjing itu dan berkata, "Apakah kamu tidak melihat? Anjing malang dan setia ini telah mati. Aku menangis juga karena ini, aku sedih kehilangan anjing ini dan ini yang membuatku menangis."

Mendengar jawaban itu, musafir itu tertawa dalam hati dan berkata, "Menangis hanya karena kematian seekor anjing? Hal yang banyak dapat kamu temukan di dunia ini adalah anjing. Seandainya pun anjingmu mati, tidak perlu kamu menangis, carilah anjing lain. Dunia belum berakhir. Kamu menangis sedemikian memilukan sehingga aku berpikir kamu telah kehilangan orang yang kau cintai."

Lelaki Arab itu tetap menangis dan berkata, "Kamu tidak mengetahui apa-apa tentang anjing ini. Jika kamu mengetahui seperti apa anjing ini, maka kamu tidak akan berkata seperti itu."

Tiba-tiba anjing itu bergerak dan musafir melihatnya dan senang seraya berkata, "Lihat! Anjingmu tidak mati, ia masih hidup."

Lelaki Arab itu kemudian berkata, "Tidak, sudah tidak ada gunanya lagi, ia akan mati, tidak mungkin ada cara untuk mempertahankannya. Ia pasti akan mati."

Musafir itu lantas bertanya, "Katakan padaku apa sebenarnya masalah anjingmu itu? Apakah dia sakit?"

Lelaki Arab itu menjawab, "Tidak, anjingku tidak punya masalah apapun dan sehat. Aku akan menjelaskan semuanya tentang anjing ini kepadamu."

Lelaki Arab itu diam sejenak mengontrol isak tangisnya dan kemudian berkata,  "Aku tidak pernah melihat anjing yang setia seperti ini. Selain cerdik, cekatan, dan menyabar, anjing itu sangat tabah. Sehari aku tidak memberikan makanan, ia tidak pernah mengeluh. Sampai hari ini, ketika aku kembali dari gurun, aku melihat anjing itu tengah lemas karena kelaparan. Malang sekali, jika seandainya aku menyisakan sedkit makanan untuknya, anjing itu tidak akan mati seperti ini."

Sang musafir menyadari ada buntalan kain agak besar di tangan lelaki Arab itu, dan bertanya, "Apa yang sedang kau genggam itu?"

Lelaki Arab itu kemudian sedikit tersenyum dan menjawab, "Apalagi yang kau pikirkan? Roti dan makanan malamku."

Musafir itu sangat terkejut dan berkata, "Idiot! Kamu punya roti dan makanan sedangkan anjingmu harus menderita kelaparan!"

Lelaki Arab itu menjawab, "Benar bahwa aku sangat mencintai anjing ini, akan tetapi kecintaanku tidak mengharuskanku membagi makananku dengan anjing ini. Apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa roti tidak dapat didapatkan kecuali dengan uang? Apalagi di gurun. Sedangkan air mata itu gratis dan tidak perlu biaya."

Musafir itu marah mendengar jawaban lelaki Arab itu dan ia berharap dapat mencekiknya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat orang sedemikian kikir yang memiliki roti namun tidak mau menyisakan untuk anjing kesayangannya. Sedemikian dungu lelaki itu sampai tidak mau memberi makan anjingnya, dan hanya menangis karena anjingnya akan mati.

Musafir itu dengan nada marah berkata, "Celakalah kamu wahai lelaki kikir yang membiarkan anjingmu kelaparan. Anjing yang menurutmu sangat setia kepadamu. Celakalah kamu karena kamu telah melakukan dosa besar." 


12.pohon berduri dan sang pemalas

Pada jaman dahulu kala, dikisahkan hidup seorang pemalas yang tidak pernah cekatan dalam melakukan pekerjaannya dan selalu menunda-nunda pekerjaannya. Bahkan untuk melakukan pekerjaan yang sangat sederhana dan sangat mudah pun, ia selalu berusaha menangguhkannya. Dalam hati ia berkata, "Ah, gampang, nanti-nanti juga bisa, waktu masih panjang."

Hal-hal kecil semacam itu akhirnya terbengkalai dan sampai menumpuk, hingga menjadi masalah besar. Di sebelah rumah orang pemalas itu, tumbuh sebuah pohon kecil yang tangkainya penuh duri tajam. Pohon yang tidak memiliki buah dan tidak memiliki keistimewaan apapun kecuali durinya itu, cukup mengggangu, mengingat setiap hari selalu ada pejalan kaki yang terkena durinya.

Banyak baju pejalan kaki yang robek dan rusak terkena duri pohon kecil itu. Mereka setiap hari mengingatkan sang pemalas itu untuk mengurus pohon itu atau menebangnya. Si pemalas itu menjawab, "Tentu, saya akan segera menebangnya." Namun, keesokan harinya, pohon itu masih berada pada tempatnya, dan kembali para pejalan kaki mengingatkan si pemalas itu. Jawaban darinya tetap sama bahwa ia akan segera menebangnya.

Hari, pekan, dan bulan-bulan berlalu, pohon kecil itu tumbuh semakin besar dan semakin kuat. Duri pohon itu semakin banyak dan lebih kuat. Adapun si pemalas itu semakin hari semakin malas. Menebang pohon berduri yang telah tumbuh besar itu memerlukan kekuatan dan tenaga banyak yang jelas di luar kemampuan si pemalas itu.

Pada akhirnya warga geram dan memperingatkan si pemalas itu bahwa jika pohon itu tidak segera ditebang maka warga akan mengadukannya kepada pengadilan. Si pemalas tetap malas dan tidak berbuat apa-apa. Akhirnya warga pun mengadukan si pemalas itu ke pengadilan. Ia pun dipanggil untuk menjawab pertanyaan di pengadilan.

Hakim bertanya, "Wahai orang yang terkenal pemalas, mengapa kau tidak menebang pohon di samping rumahmu itu? Apakah kau tidak tahu bahwa ulahmu telah mengganggu warga? Apakah kau tidak tahu betapa banyak pakaian pejalan kaki yang telah rusak dan terkoyak akibat pohon di samping rumahmu? Mengapa kau tidak memperhatikan keluhan masyarakat dan tidak segera menebang pohon itu?"

Si pemalas itu menjawab, "Saya sudah katakan kepada mereka bahwa saya akan segera menebangnya."

Hakim kembali bertanya, "Akan tetapi warga menyatakan bahwa mereka telah lama mengingatkan hal ini kepadamu, namun kau selalu menunda. Sedemikian lama kau menundanya hingga pohon kecil itu kini telah tumbuh besar."

Si pemalas itu menjawab, "Baik tuan hakim, aku akan menebangnya besok."

Hakim berkata, "Janganlah kau bermalas-malasan? Mengapa harus besok? Kerjakan hari ini juga sehingga masyarakat merasa nyaman. Aku ingin memberimu nasehat, jangan kau tunda pekerjaan sehari-harimu. Dengarkanlah nasehatku dan jangan kau tunda pekerjaan kecil atau besar. Maka pergilah kau sekarang dan tebanglah pohon itu sekarang juga."

Beberapa orang yang mengadukan pemalas itu ke pengadilan, mengolok-oloknya. Salah satu di antara mereka berkata, "Orang ini, sejauh yang aku ketahui, ia tidak akan pernah berubah. Ia tidak akan mampu menebang pohon itu sendirian. Sepertinya kita harus membantunya, agar masyarakat tenang."

Si pemalas itu tersinggung mendengar ucapan itu dan berkata, "Jika kau menilaiku seperti itu, maka sekarang juga aku akan pulang menebang pohon itu sendirian."

Si pemalas itu bergegas menuju rumahnya dan mengambil kapaknya. Beberapa pukulan kapak diayunkannya ke batang pohon itu. Alangkah terkejutnya ia, pohon itu seakan terbuat dari besi, ia hanya dapat mencuil sedikit dari batangnya. Si pemalas itu ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukannya sendirian, akhirnya ia berusaha keras menebangnya. Keringat bercucuran deras, dan setelah beberapa lama dan dengan menguras banyak tenaga, si pemalas itu akhirnya berhasil menebang pohon itu.

Setelah itu, ia duduk sejenak dengan nafas terengah-engah. Di depan matanya, batang pohon itu telah tumbang, akan tetapi hatinya belum tenang, karena ia masih harus mencabut akar pohon itu. Wajah pemalas itu pun tampak pucat, karena ia tahu berikutnya, akan lebih susah daripada menebang pohon itu. Sementara ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk mencabut akar pohon itu.

Dalam hatinya ia berkata, "Betapa malasnya aku, jika sejak lama aku tebang pohon itu, hanya beberapa kali pukulan aku tentu dapat merobohkan pohon itu. Andai saja aku mendengarkan peringatan warga, tentu aku tidak perlu kelelahan seperti sekarang ini."

Si pemalas itu mengutuk dirinya karena kemalasannya telah membuatnya sengsara sekarang. Ia berjanji tidak akan mengulangi kemalasannya.

Setelah sejenak beristirahat menghapus peluh, dengan tubuh lemas, ia berusaha bangkit untuk kembali menyelesaikan tugasnya mengangkat akar pohon itu. Dengan menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya ia mulai menggali tanah.

Saat itulah beberapa tetangganya datang membawa cangkul. Salah satu tetangganya berkata, "Kau telah menebang pohon itu, dan kami akan membantumu mencabut akarnya. Lebih baik kau beristirahat."

Saat itu, si pemalas itu duduk dan dalam hati ia berterima kasih kepada tetangganya dan ia bersumpah tidak akan bermalas-malasan lagi


Ibu yang mengingkari anaknya

Al-Kulaini meriwayatkan hadis ini di bab Nawadir di akhir kitab Qadha (peradilan) dengan sanad dari ‘Ashim bin Hamzah as-Saluli. Syaikh (at-Thusi) meriwayatkan hadis ini dalam Ziayadat Qadhaya Tahdzibiyah (Tambahan dalam masalah peradilan dari buku Tahdzib) dari Dhamrah bin Hamzah as-Saluli.

Ia berkata, "Aku mendengar teriakan seorang anak muda di kota Madinah. Ia berkata, "Adakah orang yang paling adil di sini? Orang yang dapat memutuskan perkaraku dengan ibuku."

Umar bin Khatthab menghampirinya dan berkata, "Wahai pemuda! Mengapa engkau ingin mengajukan perkara melawan ibumu?"

Ia menjawab, "Sebelumnya aku berada di dalam tubuh ibuku selama sembilan bulan. Ia juga yang menyusui aku selama dua tahun. Ketika aku mulai beranjak dewasa dan dapat membedakan kebaikan dari keburukan dan mana yang benar dan salah, ia mencampakkan aku. Ia mengaku tidak mengenal diriku."

Umar kemudian bertanya kepada wanita itu, "Wahai wanita! Benarkah apa yang diucapkan oleh pemuda ini?"

Wanita itu menjawab, "Demi Zat yang bertirai cahaya. Tidak ada mata yang dapat melihat-Nya. Demi kebenaran yang dibawa oleh Muhammad Saw! Aku tidak punya anak dan aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu ia dari kabilah mana. Ia hanya seorang pemuda yang ingin merusak kehormatanku di tengah-tengah keluarga dan familiku. Aku seorang wanita Quraisy. Aku belum pernah kawin."

Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau memiliki saksi?"

Ia menjawab, "Iya, mereka ini adalah saudara-saudaraku".

Datang sekitar empat puluh orang dari keluarganya yang siap untuk bersumpah. Di hadapan umar mereka kemudian bersumpah bahwa si pemuda hanya berniat untuk merusak kehormatan wanita ini. Wanita ini dari keturunan Quraisy dan belum menikah sekalipun.

Umar bin Khatthab memerintahkan pengawalnya untuk membawa si pemuda ke penjara. Dan selama ia dipenjara para saksi yang telah bersumpah tadi harus diperiksa lebih lanjut. Bila kesaksian mereka benar, maka si pemuda harus dihukum sebagai orang yang telah melakukan kebohongan yang mencemarkan nama baik orang lain.

Ketika mereka bergerak membawa si pemuda, mereka berpapasan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as. Si pemuda langsung berteriak lantang memohon kepada Imam Ali as, "Wahai anak paman Rasulullah! Aku seorang pemuda yang teraniaya."

Ia kemudian mengulangi ucapan yang telah disampaikan di hadapan Umar. Kemudian ia melanjutkan, "Umar memerintahkan pengawal agar menjebloskan aku ke penjara,"

Imam Ali as menjawab, "Balikkan ia ke Umar!"

Ketika si pemuda dibawa ke hadapan Umar, Khalifah Umar kemudian bertanya kepada mereka, "Aku memerintahkan kalian untuk menjebloskannya ke penjara, mengapa sekarang kalian membawanya kembali ke hadapanku?"

Mereka menjawab, "Ali bin Abi Thalib yang memerintahkan kepada kami untuk membawanya ke hadapanmu. Mengapa kami mengikuti perintahnya? Karena engkau pernah berkata bahwa ikuti apa saja yang diperintahkan oleh Ali dan jangan menentangnya."

Ketika mereka masih bercakap-cakap, Imam Ali as datang menghampiri mereka.

Ia berkata, "Hadapkan ibu si pemuda ini!"

Mereka lantas menghadirkan kembali ibu si pemuda.

Imam Ali as berkata, "Wahai pemuda! Sampaikan apa yang hendak engkau ucapkan!"

Si pemuda mengulangi apa yang telah disampaikannya sebelumnya.

Imam Ali kemudian berkata kepada Umar, "Apakah engkau memberi aku izin untuk mengadili mereka?"

Umar menjawab, "Subhanallah, mengapa tidak. Aku pernah mendengar dari Rasulullah Saw bahwa "Yang paling alim dan mengetahui di antara kalian adalah Ali bin Abi Thalib."

Imam Ali as kemudian berpaling kepada wanita dan bertanya, "Apakah mereka ini adalah saksi-saksimu?"

Wanita itu menjawab, "Iya, mereka adalah saudara-saudaraku."

Imam Ali as bertanya kepada saudara-saudaranya, "Apakah kalian menerima aku menghukumi urusan kalian antara kalian dan wanita ini?"

Mereka serempak menjawab, "Iya, wahai anak paman Rasulullah. Engkau menjadi wakil yang menghukumi antara kami dan saudari kami,"

Imam Ali as kemudian berkata, "Aku bersaksi di hadapan Allah dan aku bersaksi di hadapan orang-orang yang hadir saat ini. Aku telah menikahkan pemuda ini dengan wanita ini dengan mas kawin sebesar empat ratus dirham dari uangku sendiri. Wahai Qanbar (pelayan Imam Ali as), Ambilkan uangku!"

Qanbar membawa uang Imam Ali as dan meletakkannya di tangan si pemuda.

Imam Ali as melanjutkan, "Ambillah uang itu wahai pemuda! Berikan uang ini kepada wanita itu. Jangan engkau menghadapku kecuali telah mandi junub."

Si pemuda bangkit dan memberikan uang mas kawinnya kepada wanita itu. Kemudian ia mengajak wanita itu untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia berkata, "Wanita ini telah menjadi keluargaku."

Si wanita tiba-tiba berteriak, "Neraka, neraka, wahai anak paman Muhammad! Apakah engkau ingin aku mengawini anakku sendiri? Pemuda ini adalah anak dari suamiku. Saudara-saudaraku memaksaku untuk kawin dengan seseorang. Setelah aku melahirkan anakku dan setelah ia menjadi dewasa, mereka mengancamku agar mengusirnya dan tidak mengakuinya sebagai anak. Demi Allah! ia adalah anak dan jantung hatiku".

Ibu itu kemudian menarik tangan anaknya dan pergi dari tempat itu.

Umar bin Khatthab kemudian dengan suara lantang berkata, "Tolong dirimu wahai Umar! Bila tidak ada Ali, niscaya celakalah Umar" (Lau Laa Ali La Halaka Umar)."

Hadis ini juga diriwayatkan oleh penulis buku Fadhail Ibnu Syadzan dari al-Waqidi dari Jabir dari Salman dengan sedikit perbedaan dalam ibarat.


Ular dan kakek tua


Pada zaman dahulu, tersebutlah ada seorang kakek yang cukup disegani. Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang. Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer. Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu.

Suatu hari, ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari menghisap rokok dengan nikmatnya (sesuai kebiasaan masa itu). Tangan kanannya memegang tasbih yang senantiasa berputar setiap waktu di tangannya. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, ular itu sedang mencoba menghindar dari kejaran seorang laki-laki yang (kemudian datang menyusulnya) membawa tongkat.

“Kek,” panggil ular itu benar-benar memelas, “kakek kan terkenal suka menolong. Tolonglah saya, selamatkanlah saya agar tidak dibunuh oleh laki-laki yang sedang mengejar saya itu. Ia pasti membunuh saya begitu berhasil menangkap saya. Tentunya, kamu baik sekali jika mau membuka mulut lebar-lebar supaya saya dapat bersembunyi di dalamnya. Demi Allah dan demi ayah kakek, saya mohon, kabulkanlah permintaan saya ini.”

“Ulangi sumpahmu sekali lagi,” pinta si kakek. “Takutnya, setelah mulutku kubuka, kamu masuk ke dalamnya dan selamat, budi baikku kamu balas dengan keculasan. Setelah selamat, jangan-jangan kamu malah mencelakai saya.”

Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan melakukan itu sekali lagi. Usai ular mengucapkan sumpahnya, kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk.

Sejurus kemudian, datanglah seorang pria dengan tongkat di tangan. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. Kakek mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakannya dan tak tahu di mana ular itu berada. Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya, pria itu pun pergi.

Setelah pria itu berada agak jauh, kakek lalu berbicara kepada ular: “Kini, kamu aman. Keluarlah dari mulutku, agar aku dapat pergi sekarang.”

Ular itu hanya menyembulkan kepalanya sedikit, lalu berujar: “Hmm, kamu mengira sudah mengenal lingkunganmu dengan baik, bisa membedakan mana orang jahat dan mana orang baik, mana yang berbahaya bagimu dan mana yang berguna. Padahal, kamu tak tahu apa-apa. Kamu bahkan tak bisa membedakan antara makhluk hidup dan benda mati.”

“Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan. Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.” Kontan ular itu mengancam.

“La haula wa la quwwata illa billahi al`aliyyi al-`azhim [tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Agung] (ungkapan geram), bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh? Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik.” Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku, shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya, perbuatan baiknya berbuah penyesalan.

Kakek itu akhirnya kembali bersuara, “Sebejat apapun kamu, tentu kamu belum lupa pada sambutanku yang bersahabat. Sebelum kamu benar-benar membunuhku, izinkan aku pergi ke suatu tempat yang lapang. Di sana ada sebatang pohon tempatku biasa berteduh. Aku ingin mati di sana supaya jauh dari keluargaku.”

Ular mengabulkan permintaannya. Namun, di dalam hatinya, orang tua itu berharap, “Oh, andai Tuhan mengirim orang pandai yang dapat mengeluarkan ular jahat ini dan menyelamatkanku.”

Setelah sampai dan bernaung di bawah pohon yang dituju, ia berujar pada sang ular: “Sekarang, silakan lakukanlah keinginanmu. Laksanakanlah rencanamu. Bunuhlah aku seperti yang kamu inginkan.”

Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang mengalun merdu tertuju padanya:
“Wahai Kakek yang baik budi, penyantun dan pemurah. Wahai orang yang baik rekam jejaknya, ketulusan dan niat hatimu yang suci telah menyebabkan musuhmu dapat masuk ke dalam tubuhmu, sedangkan kamu tak punya cara untuk mengeluarkannya kembali. Cobalah engkau pandang pohon ini. Ambil daunnnya beberapa lembar lalu makan. Moga Allah sentiasa membantumu.”

Anjuran itu kemudian ia amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. Maka bebas dan selamatlah kakek itu dari bahaya musuh yang mengancam hidupnya. Kakek itu girang bukan main sehingga berujar, “Suara siapakah yang tadi saya dengar sehingga saya dapat selamat?”

Suara itu menyahut bahwa dia adalah seorang penolong bagi setiap pelaku kebajikan dan berhati mulia. Suara itu berujar, “Saya tahu kamu dizalimi, maka atas izin Zat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri (Allah) saya datang menyelamatkanmu.”

Kakek bersujud seketika, tanda syukurnya kepada Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.”

Di akhir ceritanya, si Saudi berpesan:
“Waspadalah terhadap setiap fitnah dan dengki karena sekecil apapun musuhmu, ia pasti dapat mengganggumu. Orang jahat tidak akan pernah menang karena prilakunya yang jahat.”

Kemudian si Saudi memelukku dan memeluk anakku. Pada istriku dia mengucapkan selamat tinggal. Ia berangkat meninggalkan kami. Hanya Allah yang tahu betapa sedihnya kami karena berpisah dengannya. Kami menyadari sepenuhnya perannya dalam menyelamatkan kami dari lumpur kemiskinan sehingga menjadi kaya-raya.

Namun, belum beberapa hari dia pergi, aku sudah mulai berubah. Satu persatu nasehatnya kuabaikan. Hikmah-hikmah Sulaiman dan pesan-pesannya mulai kulupakan. Aku mulai menenggelamkan diri dalam lautan maksiat, bersenang-senang dan mabuk-mabukan. Aku menjadi suka menghambur-hamburkan uang.

Akibatnya, para tetangga menjadi cemburu. Mereka iri melihat hartaku yang begitu banyak. Mengingat mereka tidak tahu sumber pendapatanku, mereka lalu mengadukanku kepada kepala kampung. Kepala kampung memanggilku dan menanyakan dari mana asal kekayaanku. Dia juga memintaku untuk membayarkan uang dalam jumlah yang cukup besar sebagai pajak, tetapi aku menolak. Ia memaksaku untuk mematuhi perintahnya seraya menebar ancaman.

Setelah membayar begitu banyak sehingga yang tersisa dari hartaku tak seberapa, suatu kali bayaranku berkurang dari biasanya. Dia pun marah dan menyuruh orang untuk mencambukku. Kemudian ia menjebloskan aku ke penjara. Sudah tiga tahun lamanya saya mendekam di penjara ini, merasakan berbagai aneka penyiksaan. Tak sedetikpun saya lewatkan kecuali saya meminta kepada Zat yang menghamparkan bumi ini dan menjadikan langit begitu tinggi agar segera melepaskan saya dari penjara yang gelap ini dan memulangkan saya pada isteri dan anak-anak saya.

Namun, tentu saja, saya takkan dapat keluar tanpa budi baik dari Baginda Rasyid, Baginda yang agung dan menghukum dengan penuh pertimbangan.

Khalifah menjadi terkejut dan sedih mendengar ceritanya. Khalifah pun memerintahkan agar ia dibebaskan dan dibekali sedikit uang pengganti dari kerugian yang telah ia derita dan kehinaan yang dialaminya. Ia pun memanjatkan doa dengan khusyu kepada Allah, satu-satunya Dzat yang disembah, agar Khalifah Amirul Mukminin senantiasa bermarwah dan berbahagia, selama matahari masih terbit dan selama burung masih berkicau.

Para napi di penjara Baghdad semakin banyak mendoakan agar Khalifah berumur panjang setelah Khalifah meninggalkan harta yang cukup banyak buat mereka.

Khalifah lalu kembali ke istananya yang terletak di pinggir sungai Tigris. Di istana telah menunggu siti Zubaidah. Khalifah lalu menceritakan apa yang sudah dilakukannya, Zubaidah pun senang mendengarnya. Ia mengucapkan terima kasih dan memuji Khalifah karena telah berbuat baik. Zubaidah juga mendoakan agar Khalifah panjang umur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar